Categories
Uncategorized

Tiga panduan untuk orang-tua dalam mengikuti anak TK

Selama saat wabah COVID-19, seputar 42 juta murid Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Landasan (SD) di Indonesia diwajibkan untuk mengikut evaluasi sekolah secara daring.

Tetapi, beberapa orang tua belum mengenali langkah mengajarkan yang efisien untuk anaknya saat harus belajar pada rumah.

Survey Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan (Kemendikbud) sepanjang wabah memperlihatkan banyak orang-tua murid SD alami ketidaktahuan sebab kurangnya pengaturan dengan guru (31,5% informan) hingga kesusahan untuk terjebak dan pahami pelajaran anaknya (34,6% informan).

Anak umur TK dan SD membutuhkan pengiringan spesial orangtua sepanjang belajar pada rumah. Studi dari Eropa memperlihatkan jika beberapa anak pada tingkat TK dan awalnya SD. 

Terutamanya membutuhkan sistem pengajaran spesial untuk menolong mereka meresap pengetahuan dan membuat kekuatan kognitif dan motorik landasan.

Saya akan memberi beberapa panduan supaya orangtua dapat mengikuti anaknya yang di TK dan SD untuk belajar pada rumah lebih efisien dan membahagiakan.

Ketahui sistem belajar anak yang paling bagus

Walau mempermudah guru atau orangtua dalam sampaikan materi, medium belajar seperti buku paket dari sekolah yang menguasai pada text kurang bagus untuk proses evaluasi anak di tingkat TK dan awalnya SD.

Satu riset dari Amerika Serikat mendapati jika begitu memercayakan materi tekstual akan membuat anak umur remaja (12-15 tahun) gampang jemu, tidak suka belajar, dan tidak bisa meresap materi secara baik. Dampak kebosanan ini kemungkinan akan dirasa anak umur TK sampai SD yang berumur di bawah 12 tahun.

Oleh karenanya, orang-tua harus melakukan eksperimen dan mengenali sistem belajar apakah yang paling dicintai anaknya. Mereka dapat lakukan ini dengan memperhatikan daya tangkap dan ketertarikan belajar anak saat diberikan dengan sistem spesifik.

Studi tahun 2011 dari Kampus Sains Malaysia, misalkan, membagi sistem belajar anak pada umumnya ke dalam tiga barisan: visual, pendengaran, dan pergerakan. Sistem evaluasi dapat dilihat dari beberapa anak mulai umur 4 sampai 5 tahun.

Bermacam program Pendidikanpedia untuk anak umur TK dan SD jadi terkenal dan capai rangking yang tinggi di Indonsia dalam pasar program Google Play Store sepanjang wabah COVID-19. Author provided

Pertama, sistem belajar visual adalah style belajar yang menguasai memakai medium gambar atau alat peraga yang warna – seperti pemakaian animasi, video Youtube, atau program di hp dalam menjelaskan materi.

Gerakan badan dan mimik muka pemberi materi dapat menolong anak yang menyukai dengan evaluasi visual dalam pahami pelajaran.

Ke-2 , sistem belajar yang menguasai menyertakan suara, baik suara pemberi materi atau pelajar. Intonasi, volume, dan artikulasi suara waktu menerangkan jadi poin utama yang bisa menolong pengetahuan barisan ini.

Anak yang menyukai dengan style belajar ini perlu untuk membaca materi yang diberi dengan suaranya sendiri agar ingat materi lebih gampang. Orang-tua bisa menolong mereka, misalkan, dengan bercerita kembali lagi materi berbentuk dongeng atau narasi yang tarik.

Ke-3 , sistem belajar yang secara menguasai menyertakan gerak-gerik badan waktu belajar. Aktivitas evaluasi yang ditangani langsung, seperti eksperimen simpel atau membuat benda, akan menolong anak yang menyukai dengan style belajar ini.

Orangtua, misalkan, dapat ajak anak untuk menggunakan bola-bola kecil untuk hitung dalam belajar matematika. Beberapa anak dalam barisan ini tidak bisa cuman duduk diam dan perlu dibawa aktif bergerak menyertakan anggota badannya saat belajar.

Bermacam studi memperlihatkan jika mengajar seorang seorang anak dengan style belajar yang pas sejak awal kali terkait kuat dengan kenaikan keadaan kognitif dan psikologi mereka saat mereka dewasa.

Mereka akan alami kenaikan keyakinan diri, meresap materi lebih efisien, dan mempunyai kekuatan tinggi dalam pecahkan permasalahan.

Persingkat waktu belajar anak dan berikan interval

Satu riset lapangan yang dikerjakan oleh barisan guru dari Tenney School di Texas, Amerika Serikat bulan kemarin memperlihatkan imbas jelek yang diakibatkan jika waktu evaluasi diberi kelamaan pada sebuah sesion (seputar 90 menit).

Efeknya ialah murid lebih susah fokus dan tidak bisa meresap materi dengan maksimal. Mereka bertambah lebih gampang mengantuk, tidak bisa pahami materi baru yang diberi, dan benar-benar gampang jemu.

Selanjutnya, studi itu mendapati jika anak pada tingkatan TK sampai SD mempunyai kekuatan untuk meresap pelajaran secara optimal jika dikerjakan sepanjang 15-20 menit.

Jika banyak materi yang perlu diberikan, guru perlu memberi waktu istirahat seputar 10 menit atau bisa lebih supaya otak anak tidak kecapekan dalam mengolah materi.

Ini diperkokoh dengan riset yang memperlihatkan jika hipokampus – sisi otak yang berperanan besar dalam evaluasi dan daya ingat – berperan lebih bagus dalam membuat daya ingat periode panjang.

Jika ada interval pendek antara dua sesion belajar. Sepanjang interval, orang-tua bisa melepaskan atau menuntun anaknya dalam lakukan senam simpel atau permainan olahraga singkat.

Studi memperlihatkan anak harus diberi waktu istirahat tiap 20 menit supaya otak tidak kecapekan dalam mengolah materi.

Sering, anak susah kesusahan meresap materi pelajaran sebab diberikan dengan kosakata yang tidak gampang dimengerti.

Misalkan, bermacam ide dalam buku text pelajaran biologi – seperti ‘fotosintesis’, ‘metamorfosis’, ‘metabolisme’, dan ‘energi’. Arti yang biasanya digunakan oleh orang saat ini susah diolah anak.

Walau sebenarnya, kosakata keterangan yang termudah dimengerti ialah kosakata yang biasa digunakan dalam pembicaraan setiap hari untuk anak. Misalkan, orang-tua bisa menyertakan figur kartun favorite anaknya dalam keterangan satu ide pelajaran.

Diakhir pelajaran, orang-tua dapat minta anaknya untuk menerangkan ulangi materi yang diberi dengan bahasanya sendiri.

Ini menolong anak dalam pahami dan ingat pelajaran yang barusan diberi.

Tehnik ini juga dapat dibiasakan untuk diaplikasikan pada anak semenjak umur dini sampai tingkatan pengajaran yang semakin tinggi.

Kecuali ke-3 point itu, ada banyak langkah inovatif yang dapat dikerjakan oleh orangtua di dalam rumah.

Misalkan, anak yang mau mengikut aktivitas belajar secara baik perlu dikasih animo seperti camilan kegemarannya, peluang bermain yang disukai anak, atau cukup hanya kalimat semangat dan sanjungan.

Leave a Reply